ANTARA SIHIR, KAROMAH, DAN MU’JIZAT

Imam Al-Maziri rahimahullaah berkata,

وَالْفَرْقُ بَيْنَ السِّحْرِ وَالْمُعْجِزَةِ وَالْكَرَامَةِ أَنَّ السِّحْرَ يَكُونُ بِمُعَانَاةِ أَقْوَالٍ وَأَفْعَالٍ حَتَّى يَتِمَّ لِلسَّاحِرِ مَا يُرِيدُ وَالْكَرَامَةُ لَا تَحْتَاجُ إِلَى ذَلِكَ بَلْ إِنَّمَا تَقَعُ غَالِبًا اتِّفَاقًا وَأَمَّا الْمُعْجِزَةُ فَتَمْتَازُ عَنِ الْكَرَامَةِ بِالتَّحَدِّي

“Dan perbedaan antara sihir, mu’jizat, dengan karomah, adalah sihir dapat terjadi dengan bantuan sejumlah bacaan dan perbuatan, sehingga semua yang diinginkan oleh tukang sihir tersebut terealisasi. Karomah tidak membutuhkan semua itu, bahkan umumnya terjadi secara kebetulan. Adapun mu’jizat, ia lebih unggul dari karomah karena adanya tantangan dalam mu’jizat itu sendiri.” (Fathul Baari 10/223)

Ane rasa sudah tidak ada keraguan lagi tentang mu’jizat. Cuman yang jadi ganjelan adalah bagaimana cara membedakan antara sihir dengan karomah. Masih bingung bro? Nyok kite belajar, sambil gelar tiker.

Pertama, telah kita ketahui bersama bahwasanya sihir adalah sesuatu yang dilarang.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اجتنبوا الموبقات: الشرك بالله والسحر

“Jauhilah perkara-perkara yang membinasakan, yaitu syirik kepada Allah dan sihir” (Shahih Bukhari no.5764)

Dan juga perbuatan sihir menyeret pelakunya pada kekafiran.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَاتَّبَعُوْا مَا تَتْلُوا الشَّيٰطِيْنُ عَلٰى مُلْكِ سُلَيْمٰنَ ۚ  وَمَا کَفَرَ سُلَيْمٰنُ وَلٰـكِنَّ الشَّيٰـطِيْنَ كَفَرُوْا يُعَلِّمُوْنَ النَّاسَ السِّحْرَ ۙ  وَمَآ اُنْزِلَ عَلَى الْمَلَـکَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوْتَ وَمَارُوْتَ  ؕ  وَمَا يُعَلِّمٰنِ مِنْ اَحَدٍ حَتّٰى يَقُوْلَاۤ اِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْؕ ….

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa Kerajaan Sulaiman. Sulaiman itu tidak kafir tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia, yaitu Harut dan Marut. Padahal, keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kafir.” … (QS. Al-Baqarah: Ayat 102)

Apa itu Karomah

Kemudian bro, kite inget penjelasan Imam al Maziri rahimahullah bahwasanya karomah umumnya terjadi secara kebetulan. Jadi bukan didapat dengan belajar, atau diwariskan dari nasab yeee… catet!

Yang namanya sihir, tidak akan muncul kecuali dari orang fasiq. Sedangkan karomah tidak akan terjadi pada diri orang yang fasiq. Lalu apakah yang dimaksud wali Allah diberi karomah?

Kite lihat dulu deh, siapa itu yang dimaksud wali Allah.

اَ لَاۤ اِنَّ اَوْلِيَآءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

“Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”
(QS. Yunus: Ayat 62)

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa.”
(QS. Yunus: Ayat 63)

Jadi bro, syarat dari wali Allah adalah harus beriman dan bertaqwa.

Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsir beliau. Maka dapat kita pahami bahwasanya wali Allah tidak akan melakukan perbuatan yang melanggar syari’at apalagi melalukan perbuatan yang dapat membatalkan keimananannya seperti sihir.

Al Hafidz Ibnu Hajar al Asqolani rahimahullah berkata,

وَيَنْبَغِي أَنْ يُعْتَبَرَ بِحَالِ مَنْ يَقَعُ الْخَارِقُ مِنْهُ فَإِنْ كَانَ مُتَمَسِّكًا بِالشَّرِيعَةِ مُتَجَنِّبًا لِلْمُوبِقَاتِ فَالَّذِي يَظْهَرُ عَلَى يَدِهِ مِنَ الْخَوَارِقِ كَرَامَةٌ وَإِلَّا فَهُوَ سِحْرٌ

“Harus diperhatikan juga keadaan orang yang mendapatkan hal yang di luar kebiasaan tersebut. Jika ia adalah orang yang berpegang teguh kepada syari’at dan menjauhi segala dosa yang membinasakan, maka hal luar biasa yang terjadi padanya adalah karomah. Jika tidak demikian keadaannya, maka itu adalah sihir.” (Fathul Baari 10/223)

Serupa dengan apa yang telah disampaikan oleh Imam Asy-Syafi’i,

وقد قال يونس بن عبد الأعلى الصدفي : قلت للشافعي : كان الليث بن سعد يقول : إذا رأيتم الرجل يمشي على الماء ويطير في الهواء فلا تغتروا به حتى تعرضوا أمره على الكتاب والسنة ، فقال الشافعي : قصر الليث رحمه الله ، بل إذا رأيتم الرجل يمشي على الماء ويطير في الهواء فلا تغتروا به حتى تعرضوا أمره على الكتاب والسنة

“Yunus bin ‘Abdil A’la berkata ; “Aku berkata kepada Asy-Syafi’i : Al-Laits bin S’ad berkata : Jika kalian melihat seseorang berjalan di atas air maka janganlah kalian tertipu olehnya hingga kalian menimbang perkaranya di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah.” Maka Asy-Syafi’i berkata, “Al-Laits rahimahullah masih kurang, bahkan jika kalian melihat seseorang berjalan di atas air dan terbang di atas udara maka janganlah terpedaya olehnya hingga kalian menimbang perkaranya di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah” (Aadaab Asy-Syaafi’i wa Manaaqibuhu hal. 184)

Pertanyaannya, bagaimana jika ada sesorang yang mengaku mengetahui hal yang ghaib?

Bagaimana dengan orang yang dapat mengetahui hal ghaib?
Dapat membaca pikiran, atau menebak masa depan?
Apakah bisa disebut wali???

Jawabannya TIDAK

وَعِنْدَهٗ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَاۤ اِلَّا هُوَ  ؕ  وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ  ؕ  وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَابِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

“Dan kunci-kunci semua yang ghaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al-An’am: Ayat 59)

قُلْ لَّا يَعْلَمُ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ الْغَيْبَ اِلَّا اللّٰهُ  ؕ  وَمَا يَشْعُرُوْنَ اَيَّانَ يُبْعَثُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.”” (QS. An-Naml: Ayat 65)

Terus…, bagaimana dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kok bisa tau kejadian yang akan menimpa ummatnya?

Nganu bro…. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ لَّاۤ اَمْلِكُ لِنَفْسِيْ نَـفْعًا وَّلَا ضَرًّا اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰهُ    ؕ  وَلَوْ كُنْتُ اَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ   ۖ    ۛ   وَمَا مَسَّنِيَ السُّۤوْءُ     ۛ   اِنْ اَنَاۡ اِلَّا نَذِيْرٌ وَّبَشِيْرٌ لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”” (QS. Al-A’raf: Ayat 188)

Jadi tidak betul jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tau yang ghaib. Terus darimana beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan kejadian yang akan menimpa ummatnya? Jawabannya, dari apa yang diwahyukan… catet!

قُلْ لَّاۤ اَقُوْلُ لَـكُمْ عِنْدِيْ خَزَآئِنُ اللّٰهِ وَلَاۤ اَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَاۤ اَقُوْلُ لَـكُمْ اِنِّيْ مَلَكٌ  ۚ  اِنْ اَتَّبِعُ اِلَّا مَا يُوْحٰٓى اِلَيَّ    ؕ  قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الْاَعْمٰى وَالْبَصِيْرُ   ؕ  اَفَلَا تَتَفَكَّرُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku.” Katakanlah, “Apakah sama antara orang yang buta dengan orang yang melihat? Apakah kamu tidak memikirkan(nya)?”” (QS. Al-An’am: Ayat 50)

So… apabila ada yang ngaku mengetahui yang ghaib, bagaimana?

Secara tidak langsung dia mengaku menjadi nabi atau rasul, bahkan melebihi kemampuan para nabi dan rasul berdasarkan nash yang ada. Keprimen soon….?!

Orang yang seperti itu, meskipun bersorban atau berjubah putih BUKANlah wali Allah melainkan wali syaithan.

Ia adalah salah satu dari kelima jenis thaghut yang harus dijauhi.

وَلَـقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ ۚ  فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللّٰهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلٰلَةُ   ؕ  فَسِيْرُوْا فِيْ الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah Thaghut”, kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di Bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. An-Nahl: Ayat 36)

لَاۤ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِ ۙ  ۙ   قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ  فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى ۙ  لَا انْفِصَامَ لَهَا   ؕ  وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: Ayat 256)

Wallaahu a’lam bish shawwab
#yukbelajartauhid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *